Seberapa miskin kamu?

 Sebelum mulai mendeskripsikan seberapa miskinnya aku, aku ingin menjelaskan latar belakang keluargaku dulu, karena mungkin itulah penyebab kami miskin, karena terlalu banyaknya kebutuhan. Huhu



Ini akan sedikit panjang, silakan skip jika tidak berkenan. :)


Tapi mudah-mudahan teman-teman bisa mengambil hikmah dari apa yang akan aku ceritakan.


*****


Aku adalah seorang perempuan, anak ke 7 dari 13 bersaudara. 7 perempuan dan 6 laki-laki. Satu anak (ke 9) wafat ketika masih bayi.


Mamaku melahirkan dengan selisih 2-2,5tahun. Mungkin karena kurangnya wawasan tentang program KB di jaman dulu, jadi pasrah aja punya banyak anak. :')


Saking seringnya lahiran, kami tidak pernah tau proses kehamilan Mama, karena Mama selalu pakai daster, dan hamil atau tidak hamil beliau selalu tampak kuat, selalu mencuci pakaian bergunung-gunung ke sungai, memasak porsi sangat banyak subuh-subuh dengan tungku bakar.


Mama bekerja 24 jam sehari karena punya anak yang masih kecil-kecil. Dan semua pekerjaan dilakukan secara konvensional. Mamaku tidak kenal apa itu rebahan, mager, ga mood, manja, dll..


Anak mencret, ngompol malam-malam sudah terbiasa bangun malam dan mencuci ke sungai karena kami tidak punya kamar mandi.


Untuk sekedar beribadah saja rasanya sangat sulit karena rumah selalu dikelilingi dengan pipis anak, di lantai, di kasur, ketika bekerja sambil menggendong, tiba-tiba punggungnya dipipisin. Jadi harus berkali-kali mandi, itupun harus buru-buru sholatnya karena anak-anaknya rewel.


Sekalipun begitu Mamaku tidak pernah mengeluh dalam kondisi apapun sesulit apapun.


Bahkan ketika hamil Mamaku tetap menyusui anak terkecil (breastfeeding while pregnant) sampai si bayi lahir. Jadi praktis Mamaku menyusui tanpa jeda yang berarti selama 32tahun. :')


Saking tidak pernah menyadari Mama hamil, pernah disuatu malam tiba-tiba ada suara bayi menangis di kamar sebelah. Yaa.. lagi-lagi kami punya adik bayi. Dari 13 kali, hanya 4 kali Mama lahiran di bidan/RS.


Abahku adalah seorang Ustadz kampung yang dibayar seikhlasnya setiap mengisi undangan tausyiah, tukang service elektronik, sekaligus guru SMP dengan honor dibawah 500 ribu rupiah per bulan, dan harus menghidupi selusin anak.


Mamaku adalah seorang ibu rumah tangga yang hatinya seperti Ibu peri. Beliau adalah representasi wonderwoman sesungguhnya di mata anak-anak nya.


Beliau jadi yatim piatu di usia 2 tahun, karena ayah ibunya meninggal bersamaan saat rumahnya ludes terbakar. Beliau dan adik bayinya selamat karena 'dilempar' oleh orang tuanya lewat jendela.


Mama dirawat oleh seorang kerabat. Dan adiknya dirawat oleh kerabat yang lain.


Kemudian Mamaku menikah di usia 13tahun dan Abahku 22 tahun.


Dan selama aku hidup dengan mereka, aku tidak pernah sekalipun dengar mereka ribut apalagi bertengkar tentang apapun.


Mama adalah istri yang sangat taat pada suami, sabar dan legowo, juga sangat keibuan. Abahku adalah sosok yang sangat bertanggungjawab dan mencintai keluarganya.


Hanya saja, keadaan memang memaksa kami untuk hidup serba kekurangan.


*****


Kemudian, seberapa miskinnya kami?


-Ketika aku mulai sekolah SD, aku tidak punya seragam baru, dan perlengkapan sekolah baru. Aku pakai warisan kakakku yang itu pun warisan dari kakak sebelumnya yang mana bajunya sudah mulai menguning, resleting rok nya copot dan hanya pakai peniti. Penampilanku sama sekali tidak estetik.


-Semua alat tulis seperti buku dan pensil adalah bekas kakakku. Aku tidak pernah punya buku baru seutuhnya. Aku juga tidak pernah punya penghapus, hanya cukup pakai karet gelang yang diikatkan di ujung pensil.


-Ketika mulai menulis dengan pulpen di kelas 4, aku hanya mampu beli lidi nya, tidak mampu beli pulpen.


-Aku bisa pakai seragam baru saat kenaikan kelas 3, itu pun di hari raya idul fitri. Jadi saat hari raya itu, aku pakai seragam baru merah putih sebagai baju lebaran ketika teman-temanku memakai rok-rok cantik berwarna-warni. Aku tidak malu, justru sangat senang. :)


Mungkin abahku berpikir sambil menyelam minum air. Wkwk


Jadi sudah pasti kalau sekedar baju baru, kami hanya membelinya setahun sekali saat lebaran. Itupun hanya baju-baju super murah.


-Selama 3 tahun awal sekolah aku tidak pernah pakai sepatu karena tidak punya (Nyeker).


Sekalinya punya sepatu di kelas 4, aku pakai sampai kelas 6, itupun dengan kondisi jempolku keluar dan bagian tumitnya mangap-mangap setiap kali aku melangkah. Ujung-ujungnya ya harus nyeker lagi sampai lulus.


-Aku pernah menangis berguling-guling seharian karena minta jepit rambut kupu-kupu seperti teman-teman tapi tetap tidak dibelikan karena Mama ga punya uang. Ada kalanya aku berpikir Mamaku sangat jahat. Padahal aku jarang sekali minta sesuatu karena sudah pasti tidak dikasih.


-Aku pernah makan mangga bekas gigitan temanku yang tinggal biji (pelok) dan serat-seratnya yang sudah hambar karena saking ngilernya liat dia makan dan rela makan bekas ludahnya.


Aku kadang iri dengan temanku yang ini karena dia anak orang berada, uang sakunya banyak, dan selalu makan enak.


-Sementara aku jarang sekali diberi uang saku, hanya diberi sesekali itu pun hanya bisa untuk membeli sebungkus pilus atau 2 keping opak singkong.


-Kami sering makan nasi jagung, dan paling sering makan ubi, talas, singkong kukus sebagai pengganti nasi.


-Ketika makan, dirumahku sudah terpatri budaya ‘catu’ atau jatah. Nasi secentong dan 2 buah tempe goreng misalnya, agar semuanya kebagian. Dan Mama sangat adil dalam pembagian.


-Saat Abah pulang dari pengajian, walimahan atau tahlilan, kami akan sabar menanti berkat (kalau di kota mungkin sejenis nasi box), dan sebutir telur rebusnya dibagi 8 biar adil. Telur itu salah satu makanan mewah untuk kami. Kami bisa makan telur 1 butir sendirian biasanya hanya saat bulan ramadhan dan kenaikan kelas. Atau saat Abahku ada rezeki lebih.


-Selama menjadi anak-anak aku tidak pernah minum susu, walaupun hanya skm sasetan. Ingin sekali rasanya minum segelas susu sendirian seperti di iklan-iklan TV yang aku tonton. Sekalinya diberi susu kental manis yang dicampur lagi dengan gula dan warnanya juga tidak lagi putih, itupun hanya saat diberi campuran obat cacing oleh Mama. (Bener-bener jebakan betmen). Satu saset skm dibagi 4 gelas itu jadilah air gula rasa susu. :))


-Aku hampir selalu sarapan dengan nasi dan 2 buah gorengan dage atau randem sebagai lauk. Dage atau randem adalah limbah/ampas tahu btw. Mungkin seperti oncom kalau di kota. Tapi lebih rendah lagi derajatnya. Wkwk


-Mamaku sudah biasa menahan lapar demi anak-anaknya, selalu pura-pura sudah makan duluan padahal belum. Seringnya menunggu sisaan anaknya yang makan tidak habis.


-Kami pernah makan hanya dengan terasi goreng karena tidak punya uang untuk membeli bahan lauk.


-Kami juga pernah makan hanya dengan tumbukan cabai garam karena tidak punya lauk. Kalau makan cuma pakai kecap rasanya sudah terlalu biasa.


-Mamaku terkenal sebagai tukang ngutang di warung atau toko, sering ngutang beras dan sembako. Sampai suatu hari pernah dimaki-maki si Ibu empunya toko karena belum bayar utang sudah ngutang lagi. Suaminya pun ikut-ikutan merendahkan Abahku. Tampaknya itu yang paling membuat Mamaku sakit hati.


-Suatu malam pernah kami mengeluh lapar tapi Mama tidak punya apapun untuk dimakan, jadi Abah pergi kerumah kerabat seorang tukang daging, untuk meminta lemaknya (gajih dalam bahasa Jawa).


Saat pulang, Abah dengan sumringahnya bilang kalau malam itu kita akan berpesta sate.


Pastilah kami senang bukan main dan semangat untuk bakar sate bareng-bareng, walaupun kami heran kenapa sate-sate itu terus meleleh ketika dibakar. Kami tetap senang saat makan sate-sate itu dan merasa rasanya sangat enak.


Tapi saat menjelang tidur kami tidak bisa tidur karena sibuk menjilat-jilat langit-langit mulut karena terasa tebal dan tidak nyaman. Kami mengeluh pada mama Abah tapi mereka hanya tertawa dan menyabarkan, walaupun mungkin dalam hati nyesek banget.huhu

sumber : quora DHena FadHilah

bersambung di part 2

0 Response to "Seberapa miskin kamu? "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel